Dua hari bisa berarti banyak hal, setidaknya itulah yang ditawarkan Garda Himabio Nymphaea ITB pada Sabtu-Minggu (01-02/09/18) pekan lalu. Akhir pekan itu rangkaian acara Anggarasaka digelar di Bandung Creative Hub. Himabio Nymphaea ITB sengaja mengadakan acara di luar kampus untuk melibatkan partisipasi masyarakat sekitar, tidak hanya untuk mahasiswa saja. Harapannya semakin banyak yang datang, semakin banyak pula yang tersadarkan. Dua hari itu jendela isu konservasi alam di Indonesia dibuka.

Anggarasaka ternyata bukan sekadar sebuah nama, dibaliknya terdapat makna sekaligus harapan. Anggarasaka berasal dari kata anggara yang berarti liar atau buas, dan saka yang berarti tiang atau tonggak. Anggarasaka diharapkan mampu menjadi tiang penyangga dunia liar alam Indonesia. Tiang ini perlu ditopang oleh banyak pihak, karena konservasi alam menjadi tanggung jawab seluruh umat manusia. Oleh karena itu, acara ini melibatkan berbagai pihak seperti mahasiswa, pecinta alam, penggiat konservasi, pelaku industri kreatif, sineas, akademisi, dan masyarakat umum dalam satu tempat.

Rangkaian acara ini menawarkan banyak hal untuk dinikmati pengunjung. “Suaka di atas tempurung” merupakan tajuk yang manis untuk mengemas pameran foto dan video. Pameran foto menampilkan display karya hasil buah keringat ekspedisi Garda Nymphaea di Suaka Margasatwa Cikepuh, Sukabumi. Ekspedisi tersebut memakan waktu seminggu dari tanggal 7-14 Januari 2018. Pada awalnya, ekspedisi ini bertujuan untuk memetakan biodiversitas di lingkungan Cikepuh, agar kemudian bisa ditentukan apakah Suaka Margasatwa Cikepuh bisa dihuni oleh badak atau tidak, mengingat Ujung Kulon yang terancam dan kapasitasnya yang tidak terlalu besar.

Mengemban misi untuk badak, tim ekspedisi Garda Nymphaea ITB berharap status hukum lingkungan Cikepuh berubah dari suaka margasatwa menjadi cagar alam. Tentu hal ini untuk kebaikan flora dan fauna Cikepuh, agar pengawasan dan perlindungan habitat mereka lebih ketat. Berbagai temuan menarik didapatkan tim ekspedisi. Melalui inventarisasi potensi alam, ditemukan bahwa Suaka Margasatwa Cikepuh menyimpan keanekaragaman 200 lebih tumbuhan. Kondisi komunitas penyusun hutan dan tepi pantainya juga menunjang sehingga cocok digunakan sebagai habitat berbagai satwa yang dilindungi. Sayangnya untuk badak, ada satu permasalahan yang cukup fatal. Tumbuhan langkap (Arenga Obtisufolia) memenuhi hampir seluruh hutan, hal ini menyebabkan tumbuhan lain yang merupakan makanan badak gagal untuk berkembang, kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit.

Temuan lain yang cukup mengagetkan yaitu kondisi pantai Suaka Margasatwa Cikepuh yang sangat memprihatinkan. Betapa tidak, pantai yang seharusnya identik dengan keindahan pasir putihnya seakan tak berarti apa-apa ketika sampah berserakan dimana-mana, terutama sampah plastik dalam jumlah yang besar. Ungkap seorang warga yang tinggal di sekitar situ, sampah-sampah ini merupakan kiriman dari kota-kota di Jawa Barat bagian selatan melalui daerah aliran sungai menuju ke pantai. Kondisi ini mengancam kehidupan penyu yang ingin bertelur di pantai Cikepuh. Telur penyu yang baru saja menetas bisa jadi tersangkut sampah ketika hendak merangkak ke laut.

Selain pameran foto, Anggarasaka juga bekerjasama dengan INFIS melakukan pemutaran film dan diskusi. Beberapa film yang diputar yaitu “King of Krakatoa”, “Penjaga Bumi Jagaria”, dan “Ocean and us”. Film-film tersebut semuanya mengangkat keresahan yang sama, yaitu mengenai realita masalah-masalah konservasi alam di Indonesia. King of Krakatoa menceritakan bagaimana burung Rangkong Gading diburu tanpa memandang bulu dalam jumlah yang besar. Tercatat, sebanyak 500 ekor per bulan burung rangkong ditangkap, sehingga dalam jangka waktu satu tahun saja, spesies ini terancam punah. Film lain, Penjaga Bumi Jagaria menampilkan hal yang berbeda yaitu tentang konflik masyarakat adat dengan perusahaan swasta. Masyarakat adat melawan karena ada pihak yang ingin merampas hak mereka. Bagi mereka tanah dan alam merupakan warisan leluhur yang harus dijaga, tidak boleh digunakan semena-mena. Terakhir, film Ocean and us bercerita mengenai kerusakan ekosistem laut dan perburuan sirip hiu serta konflik ekonomi yang menyertainya.

Acara lainnya yaitu talkshow interaktif bertajuk “Teknologi, Seni, dan Budaya untuk Biodiversitas Indonesia”. Talkshow ini menghadirkan beberapa narasumber yang berpengalaman di bidang konservasi alam. Pada sesi pertama, Glaudy Perdanahardja (The Nature Conservancy) membuka diskusi tentang pro dan kontra penangkaran penyu. Menurutnya, kita seringkali gagal dalam memahami masalah penangkaran secara holistik. Ada aspek-aspek yang kita lupakan dalam melakukan penangkaran contohnya seperti suhu lingkungan. Padahal perbedaan suhu antara habitat alami telur penyu dengan di penangkaran bisa berpengaruh terhadap kualitas penyu itu sekaligus rasio kelamin penyu yang lahir. Selain itu, perlu kita sadari bahwa penangkaran penyu bisa juga mengubah perilaku penyu. Masalah konservasi penyu juga diangkat lagi di sesi kedua diskusi bersama Dwi Suprapti (WWF Indonesia). Selanjutnya, di talkshow sesi ketiga Een Wirawan Putra (Rekam Nusantara) membawakan topik perihal peranan film sebagai sarana edukasi konservasi pada masyarakat umum. Diskusi pun di akhiri pada sesi keempat. Mengundang Sandy Adhitia (Pijak Bumi), Anggarasaka mengajak masyarakat untuk menggunakan produk ramah lingkungan.

“Konservasi adalah tentang membatasi ego manusia, agar tidak sewenang-wenang. Yang kita atur dan kelola adalah nafsu manusianya,” ucap Glaudy. Sebagai ketua acara, Fattreza Ihsan (BI’15) berharap Anggarasaka bisa membuka mata masyarakat untuk semakin mencintai alam. Apalagi Indonesia mengandung potensi biodiversitas yang luar biasa besar, konservasi alam mutlak diperlukan agar tak makin banyak makhluk hidup yang terancam. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?

Sumber foto : dokumentasi penulis