Pada suatu ketika terdapat seorang flâneur yang sedang dalam perjalanan menuju Asia Timur dari Eropa. Seperti pada umumnya perjalanan di awal abad 20, perhentian pertama adalah Kairo, yang menawarkan daya magis mesir kuno yang sudah tentu akan menarik minat orang kulit pucat. Namun, hal yang berlangsung di suatu kafe di Kairo ternyata lebih menarik daripada Piramida dan segala keagungan peradaban masa lampau. Yang menjadi perhatian adalah suatu percakapan antara misionaris Amerika dengan seorang berbangsa Tionghoa.

“Rupanya Tuan seorang misionaris, seperti yang tercantum pada kartu nama Tuan?” Fu bertanya setelah beberapa saat.

“Betul,” jawab orang yang ditanya. “Tentunya Anda sudah tahu apa artinya!”

“Tuan berkunjung ke negeri kami dengan maksud mempelajari agama kami, untuk kemudian disebarkan di Amerika Serikat?”

Misionaris itu menatap Fu dengan mata terbelalak, dan berkata:

“Terus terang, seumur hidup saya belum pernah mendengar pertanyaan yang begitu tidak masuk akal! Saya penganut ajaran Kristiani, dan ajaran yang saya anut adalah satu-satunya ajaran yang benar. Tetapi Anda, yang tentunya mengikuti ajaran Konfusius, perlu meninggalkan ajaran yang keliru itu dan menjadi Kristen.”

“Sesungguhnya saya seajaran dengan Tuan,” jawab orang Tionghoa itu sambil mengembangkan senyum.

“Anda… Kristen…? Jadi Anda sudah dikristenkan?”

“Dikristenkan? Oh, tidak! Untuk apa? Berganti kepercayaan sama sekali tidak perlu. Dan hanya orang pandir yang mau melakukan hal yang tidak perlu.”

“Saya belum mengerti. Anda belum bertobat, tetapi mengaku sebagai orang Kristen. Saya butuh jawaban untuk teka-teki ini!”

“Ini bukan teka-teki, melainkan sesuatu yang di negeri saya sudah lama dipahami untuk semua orang. Maaf, sesuatu yang cukup jelas mungkin juga dapat dipahami oleh orang Tionghoa. Yesus Kristus adalah pendiri ajaran yang Tuan anut, dan Petrus digambarkan kepada saya sebagai rasul utama, yang dipercayakan sebagai gembala umat; dengan demikian Tuan tentu mengakui sabda keduanya. Yesus Kristus menguraikan intisari ajarannya saat bersabda : Sayangi Tuhan dan sayangi sesamamu! Dan Petrus dalam suratnya yang pertama: Takutilah Tuhan; sayangi sesama, dan hormati semua orang!

Itulah intisari ajaran Kristian menurut Yesus Kristus dan muridnya yang utama. Intisari ajaran kami berbunyi: Kebahagiaan sejati turun dari langit, dan umat manusia harus membaginya dengan dami dan tanpa dengki. Bukankah itu sama saja? Ajaran yang Tuan anut dan ajaran yang kami yakini sesungguhnya sama. Jika saya menaati ajaran saya, maka saya berlaku seperti seharusnya orang Kristen, dan jika Tuan melaksanakan ajaran Tuan, maka Tuan adalah apa yang tadi Tuan sebut sebagai pengikut ajaran Konfusius.”

Cerita di atas adalah nukilan karya dari Karl May, yang ditulis berdasarkan perjalanan sang penulis mengunjungi wilayah-wilayah di timur. Sungguh menarik melihat benturan-benturan peradaban dan budaya yang biasanya terhalang oleh purbasangka yang negatif dan rasa curiga. Dan tokoh utama yang sering dinarasikan oleh sastra dan sejarah adalah dari kacamata orang kulit putih. Tokoh pendukungnya bisa jadi orang Maya, Inca, Asmat, Aborigin atau Maori. Namun, seiring dengan waktu, karena globalisasi dan pandangan manusia yang lebih terbuka, narasi ini menjadi lebih berimbang.

Pada nukilan di atas, bisa dipahami bahwa tokoh misionaris merupakan representasi dari kalangan pria kulit putih yang selalu memandang manusia dari ras lain sebagai liyan, yang hanya menjadi objek pembelajaran dan pengajaran. Kala itu (baca: abad 19 akhir dan 20 awal) adalah saat dimana ras kulit putih seolah-olah menjadi pusat dunia. Hampir seluruh dunia sudah dijelajahi, dan kata dijelajahi ini pada kelanjutannya mempunyai makna dieksploitasi. Fase pertama adalah eksploitasi sumber daya alam, karena akar mula penemuan dunia baru dan wilayah-wilayah lain adalah berkurangnya pasokan yang bersifat material. Fase pertama ini berlangsung sejak akhir abad 15 hingga abad 19. Fase kedua yang dimulai pada pertengahan abad 19 adalah fase eksploitasi sumber daya manusia.

Pada fase pertama, manusia jajahan hanya menjadi pekerja kasar. Manusia menjadi budak, dan tanah jajahan menjadi sumber penghisapan sumber daya alam (serta pundi-pundi ekonomi kerajaan atau suku jajahan). Lalu, fase kedua berubah karena disebabkan oleh banyak faktor. Abad 19 adalah masa dimana para bangsa Eropa ini mulai merasa nyaman pada kedudukan mereka, yang mana berakibat tanah jajahan bukan milik orang-orang tersingkir di Eropa yang menginginkan kejayaan dan kekayaan instan, melainkan sudah dilirik menjadi tempat yang aman dan beradab untuk membangun keluarga. Perang antar bangsa Eropa mulai berkurang, dan di akhir abad itu bangsa-bangsa Eropa mulai menetapkan batas-batas dan membagi-bagikan benua Afrika dalam suatu pertemuan di Berlin (yang tentunya tidak dihadiri oleh satupun orang Afrika). Kasus ini terjadi karena adanya kepentingan oleh orang Eropa untuk terus melanjutkan proyek kolonisasi ini. Melanjutkan proyek dalam artian bahwa sumber daya alam dan manusia harus dijaga sehingga kolonisasi bisa berjalan lebih efektif. Bagi beberapa kolonis ini diartikan dengan memberikan porsi lebih bagi manusia jajahan di beberapa profesi, namun tak lupa selalu menjaga kontrol penuh atas mereka.

Superioritas kolonis dalam benturan

Pada akhir fase pertama, banyak kalangan terpelajar kulit putih berusaha untuk melakukan studi memahami kehidupan manusia-manusia terjajah. Sayangnya, beberapa yang populer adalah yang membawa pulang ke Eropa ide-ide pembenaran kepada sesama kulit putih bahwa ras-ras lain ini butuh dibimbing dan diberi pelajaran, karena dirasa peradaban dan kebudayaan lain ini lebih primitif. Jadi, dari kacamata kalangan ini, mereka sebagai ras yang mempunyai tingkatan lebih tinggi mempunyai tanggung jawab untuk menjadikan ras lain terpelajar ala eropa dan mempunyai perilaku yang beradab.

Lalu pada fase kedua, scientific rasicm ini menjadi hal yang wajar untuk mengemuka dalam kalangan akademik. Salah satunya dengan mencoba melakukan penelitian ilmiah dari sudut anatomi antar rasial, dimana sebagai contoh Samuel George Norton mengumpulkan tengkorak-tengkorak dari setiap ras lalu mencoba mengklasifikasikan ras berdasarkan kapasitas otak. Jelas, kaukasian akan ada di tingkat atas, karena yang diukur adalah volume interior dari tengkorak, bukan otak secara langsung. Contoh lainnya adalah kasus Sarah Baartman, yang menjadi pertunjukan cukup populer di Perancis dengan nama Hottentot Venus, dan setelah meninggal tubuhnya diawetkan sebagai obyek penelitian ilmiah karena hal berikut: dia adalah wanita negro yang memiliki, maaf, pantat yang tergolong besar (film Black Venus, 2010).

Meskipun pemikiran humanis sudah berkembang sejak usaha William Wilberforce berhasil di parlemen Inggris (film Amazing Grace, 2006), namun pemikiran mengenai kulit putih sebagai ras utama berkembang lebih pesat layaknya kanker. Pada dasarnya memang seakan-akan perihal perbedaan rasial ini adalah hal yang natural dan masuk akal bagi pemikiran sempit. Komik Tintin di Kongo menjadi salah satu contoh menonjol yang merasuk dalam kebudayaan populer mengenai pemikiran ini. Meskipun hal ini ‘diobati’ pada komik Petualangan Tintin : Lotus Birudan beberapa komik selanjutnya, namun tak bisa disangkal, bahwa pemikiran ini begitu jauh tertanam pada orang kulit putih.

Pada fase kedua ini seringkali pertunjukan-pertunjukan di gedung-gedung opera menggelar acara yang berbau timur, yang dirasa oleh wanita-wanita sosialita zaman itu sebagai kebudayaan yang eksotik dan mistis (coba film Magic in the Moonlight, 2014). Ini merupakan bentuk eksploitasi lain dalam bentuk budaya, dimana budaya timur ini (dalam hal ini seringkali kebudayaan Tiongkok) disederhanakan sedemikian rupa sehingga bukan nilai-nilai budaya yang ditonjolkan, melainkan sebagai objek pembanding saja, bahwa kebudayaan Eropa mempunyai asosiasi dengan kata modern. Pada umumnya, hal ini juga merasuk pada orang-orang terjajah yang mana memang menganggap segala kebudayaan Eropa adalah langkah yang harus diambil jika ingin kata modern dan kemajuan melekat. Dari yang mendasar seperti pola pikir, hingga hal yang seolah remeh temeh macam mode fashion, berbondong-bondong manusia terjajah ingin meninggikan kasta mereka, seiring dengan politik etis oleh beberapa bangsa Eropa.

Memang dari sisi yang liyan atau non-kulit putih, benturan peradaban untuk di beberapa region mengagetkan mereka. Tingkat kekikukan dalam benturan ini berbeda-beda tergantung seberapa besar keterkaitan mereka dengan jalur perdagangan antar benua kala itu. Pada sebagian besar kasus, narasi yang terjadi adalah suku-suku pelosok menyambut hangat para ‘begundal’ penjelajah Eropa dan tentu saja ‘begundal’ ini menyambut kesempatan emas ini dengan meminta terus menerus. Seperti sudah dibahas, setelah itu terjadilah kolonialisme. Namun efek ini belum berhenti begitu saja. Setelah fase kedua selesai, atau dengan kata lain setelah satu per satu negara itu merdeka, terjadilah sesuatu geger sosial dalam masyarakat yang liyan ini. Kebanyakan yang terjadi ialah adanya sentimen anti hal-hal yang berbau barat dan perihal trauma dari sistem yang ditinggalkan, seperti pada Peristiwa Tiga Daerah. Seluruh kebudayaan barat yang mencengkeram mulai perlahan-lahan digerus untuk kemudian digantikan dengan perumusan kebudayaan nasion sendiri. Sistem yang ditinggalkan oleh kolonial satu persatu ditanggalkan. Dalam kisah perjalanan negeri ini, masalah benturan kebudayaan ini merembet pada perang dingin seniman perupa antara poros ASRI di Jogja dengan poros Universiter Guru Gambar ITB di Bandung. Poros Bandung yang mana ITB merupakan hasil didikan laboratorium Belanda yang berjiwa abstrak dan nihil, dikecam oleh poros Jogja yang membawa nilai-nilai tradisional. Pada periode sebelumnya terdapat Alisjahbana yang merujuk sastra Barat dengan Sanusi Pane yang lebih condong pada kebudayaan asli. Kekikukan jauh sebelumnya pada fase kedua adalah perihal pakaian yang berpindah dari pakaian tradisional menuju setengah eropa dan akhirnya eropa seutuhnya (pada kalangan akademik, sudah disinggung pada paragraf sebelumnya).

Tumbukan tidak lenting peradaban

Benturan-benturan kebudayan semacam ini sudah seringkali terjadi pada sepanjang sejarah peradaban. Gesekan yang terjadi berbeda-beda, tergantung seberapa besar ekstrim perbedaan dan pemikiran masing-masing pihak. Hal ini bisa dianalogikan seperti tumbukan tidak lenting dan tumbukan lenting. Akulturasi Eropa masa Perang Salib dari pengetahuan bangsa Arab dan jalur sutra (yang diperpanjang juga hingga nusantara) merupakan contoh dari tumbukan lenting, dimana benturan yang terjadi pada kebudayaan-kebudayaan yang berbeda ini sama-sama memiliki kepentingan mutualisme sehingga tidak terjadi kekagetan yang berakibat fatal. Pada tumbukan lenting, benda yang bertumbukan akan memiliki momentum yang sama antara sebelum dan sesudah tumbukan, sehingga yang terjadi setelah tumbukan adalah kedua benda akan menjauh dengan arah yang berbeda. Sedangkan pada tumbukan tidak lenting, kedua benda yang bertumbukan akan seolah-olah menyatu, saling menempel. Ini terjadi pada kasus pertemuan conquistador dengan bangsa di Karibia dan Maya-Aztec-Inca. Karena conquistador ini memiliki keunggulan pengetahuan akan dunia jika dibandingkan sempitnya pemikiran bangsa-bangsa ini karena seolah-olah terisolasi dari kebudayaan lain, maka dengan pemaksaan, benturan kebudayaan ini menjadi satu dengan pihak conquistador sebagai ‘pemenang’. Asimilasi terjadi sehingga menghasilkan kebudayaan mestizo yang menelan kebudayaan bangsa Indian asli.

Benturan peradaban sudah menghilang dengan adanya teknologi dan globalisasi. Memang noda-noda benturan pada masa lalu menimbulkan trauma bagi sebagian pihak. Sungguh disayangkan memang terdapat tumbukan tidak lenting peradaban ini terjadi karena sifat-sifat buruk manusia keluar dan lebih nampak daripada yang baik. Namun, adakalanya benturan ini baik adanya, misalnya saja dengan terselenggaranya Exposition Universelle 1889 yang mempertemukan Debussy dengan gamelan.

Sebagai penutup, kutipan dari buku Dan Damai di Bumi! ini adalah intisari dari buku tersebut, yang sejalan dengan angan terhadap masa depan umat manusia yang toleran dan berbudaya:

Bawalah warta gembira ke seantero dunia.

Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,

dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,

jadikanlah ia perlambang damai antarumat.

Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah hanya cinta,

segala lainnya tinggalkan di rumah.

Justru karena ia pernah berkorban nyawa,

dalam dirimu kini ia hidup selamanya.

Ehm, benturan peradaban di masa depan bisa saja terjadi, dengan alien siapa tahu?