Kisah mengenai gejolak zaman selalu berhasil memikat manusia untuk membungkusnya dengan kisah personal manusia yang terkena imbas. Hidup dan gagasan persona tersebut tak dapat dipisahkan dengan gejolak tersebut. Kisah diciptakan, dikembangkan, dialih-rupakan, dan diusahakan hidup menembus segala zaman.

Ekranisasi adalah salah satu proyek dengan tujuan pelanggengan dan penyebaran kisah-kisah tersebut. Namun sejatinya ekranisasi sulit dilakukan, karena, meminjam perkataan Bapak Sapardi, alih wahana karya ini berdampak pada penyempitan imajinasi dan pengokohan bingkai kisah. Satu halaman penuh tulisan dapat disederhanakan dalam beberapa detik adegan. Pemikiran persona tersebut tak bisa selalu diungkapkan secara gamblang, jika tidak ingin jatuh banyak adegan ala sinetron Indonesia. Dan terutama, untuk memenuhi tuntutan pasar film harus membuang banyak adegan, yang bisa berakibat fatal jika proses seleksi ini membuang roh kisah tersebut dan mengganggu keberlanjutan alur kisah. Tentu ini menjadi menjadi tantangan dalam penggarapan film Bumi Manusia.

Tetralogi Buru (termasuk Bumi Manusia) adalah karya yang menjadi anak rohani dari Bung Pram. Pram memiliki sudut pandang sendiri dalam melihat keberjalanan kelahiran bangsa yang saat ini bernama Indonesia. Seperti yang dikatakan Budiman Sudjatmiko, Bumi Manusia (terlepas dari tetralogi) ini memang pantas disejajarkan untuk menjadi karya klasik mengenai persona dalam pergolakan bangsa seperti Gone with the Wind (1936) atau Doctor Zhivago (1957). Namun, ada benang-benang yang samar-samar terlihat berbeda menyelimuti kisah roman Bumi Manusia jika dibandingkan dengan karya-karya klasik tersebut. Roh dari Bumi Manusia bukan roman namun bumi manusia dan segala permasalahannya dengan persona yang menginginkan pembebasan dari penindasan.

Roh dari novel tersebut sudah seyogianya menjadi fokus utama bagi Hanung untuk menyutradai ekranisasi novel tersebut dan menjadikan film ini sebagai cucu rohani Bumi Manusia. Sejak awal Hanung mempunyai tujuan bahwa film ini sebagai media perkenalan generasi saat ini kepada gagasan-gagasan Bung Pram. Namun, hal ini tentu mempunyai implikasi pada durasi film. Durasi film yang mencapai 181 menit merupakan hal yang wajar dari film hasil ekranasi, namun mungkin tidak bagi film populer pada umumnya yang kini hanya berkisar pada 120 menit. Film Ben-Hur (1959), Gone with the Wind (1939), dan Doctor Zhivago (1965) semua diangkat dari novel dan berdurasi lebih dari 3 jam.

Durasi tidak akan menjadi masalah untuk komersial, jika aliran cerita dari hulu ke hilir dapat dijaga tempo ceritanya. Hanung bermain aman, dengan benar-benar loyal terhadap novel yang ditulis Pram tanpa persepsi personal dan mengembangkan lebih jauh, seperti yang dikatakan pada suatu wawancara*. Segala pembabakan dan porsi dari adegan roman atau pengadilan secara garis besar sesuai dengan novel. Sayang sekali, beberapa cabang kecil seperti kisah persahabatan dengan Jean Marais, Jan Dapperste, atau kakak beradik Croix dan juga kisah relasi guru-murid dengan Magda Peters yang mempunyai fondasi penting dalam novel, justru diminimalisir secara drastis sehingga terkesan hanya tempelan yang berfungsi untuk mendukung Minke. Nampaknya reduksi ini memang disengaja karena tidak ingin memotong intensitas hubungan Minke dengan Nyai dan Annelies.

Menghalau semua anggapan miring sebelum naik layar, Iqbaal dapat memerankan Minke dengan cukup baik. Minke adalah roh dari Bumi Manusia, dan persepsi awal yang didapat dari Iqbaal tentu akan berimbas pada penonton di kelanjutan film. Tantangan terutama dari seorang aktor adalah menanggalkan semua identitas dan berusaha menjadi tokoh yang diperankan. Tak bisa ditampik, mungkin bagi penonton terutama dari generasi milenial yang merupakan target utama Hanung, Iqbaal telanjur lekat dengan peran Dilan pada dua film yang juga merupakan ekranisasi dari suatu novel. Seolah-olah Iqbaal sedang memerankan Dilan yang terlempar pada era kolonial oleh mesin waktu Bill&Ted karena sering menelpon Milea lewat telepon umum. Dalam hal ini, Iqbaal cukup baik karena seiring berjalannya film anggapan bahwa Iqbaal = Dilan akan hilang. Masalahnya adalah, jiwa Minke masih kurang melekat pada akting Iqbaal. Minkenya Iqbaal adalah Minke yang masih muda dan labil, terkadang bersosok dewasa seperti priyayi terpelajar pada umumnya, namun di lain kesempatan seperti tidak mempunyai pegangan hidup. Jiwa Minke yang kritis sebagai penulis, menjunjung tinggi peradaban Eropa, dan menentang feodalis Jawa hanya nampak sekilas.

Adegan Minke paling menganggu dan membingungkan tentu adalah adegan pengangkatan ayah Minke sebagai Bupati, yang memang sedikit berbeda dengan novel. Dalam adegan ini, Minke menerjemahkan pidato ayahanda nya dari Jawa ke Belanda dengan berbeda 180o dari isi awalnya. Pidato dipelintir dengan menampilkan bahwa Minke sudah memiliki kesadaran akan semangat kebangsaan dan kemerdekaan. Padahal kesadaran Minke akan keadaan bangsanya belumlah mencapai taraf tersebut, dan implikasi tindakan Minke dalam acara publik tersebut seharusnya menciptakan awkward moment yang tentu mengarah pada anggapan bahwa tindakan ini anarkis untuk memberontak (ingat era itu adalah era emas Belanda sebagai kolonial dan tindakan berani semacam ini belumlah ada). Selebihnya, peran Iqbaal sebagai pemuda yang kasmaran, pemuda yang syok menemukan rahasia gelap kekasihnya, pemuda yang ingin berjuang mati-matian untuk istrinya cukup terlihat bagus, mungkin karena terbantu peran romantis dalam film sebelumnya.

Sosok yang tentu mencuri perhatian adalah Nyai Ontosoroh. Sosok anomali yang hendak melawan tatanan sosial ini tampil sangat dominan sejak pertengahan film, hampir-hampir menutupi peran Minke sebagai naratif orang pertama. Pemilihan Ine Febriyanti yang merupakan orang teater sempat dianggap miring juga. Ine cukup sukses (walau mungkin belum sekuat Annisa Hertami dalam film Nyai) memerankan sosok pengelola perusahaan besar yang kuat, perempuan yang berusaha mempertahankan kedudukan keluarganya di pengadilan, dan kemudian beralih menjadi sosok ibu yang akan kehilangan segalanya termasuk anaknya. Namun, sosok ibu yang dominan sehingga sang anak tidak bisa lepas dari bayang-bayang sampai sebelum sosok Minke datang tidak cukup tertampilkan.

Bumi Manusia tidak akan lengkap tanpa sang bunga penutup abad: Annelies. Mawar benar-benar cocok memerankan sebagai gadis indo yang beranjak dewasa namun masih bertingkah kanak-kanak nan manja. Mawar juga tampak menyatu dengan rumah gedongan kayu bernuansa jambon, seakan sosok Annelies benar-benar terikat dengan rumah itu, menggantikan keterikatan Annelies pada Nyai. Selain itu, Mawar juga tampak lebih berhasil menampilkan sosok kasmaran pada Annelies dibandingkan Iqbaal sebagai Minke. Hanya sayangnya adalah rasa trauma Annelies pada pria berkulit putih baru keluar ketika trauma tersebut diceritakan oleh Minke, padahal rasa trauma tersebut sudah terjadi sebelum semua kejadian di film terjadi.

Robert Suurhof sebagai salah satu tokoh yang cenderung antagonis terlihat konsisten dengan asumsi awal film sebagai tokoh yang tidak ingin memilki darah pribumi. Sebagai sosok yang sebenarnya pengecut dan relasi kompleks dengan Minke meski penampilannya tidak banyak namun cukup tergambarkan. Begitu pula dengan Robert Mellema, meski kebencian pada perjumpaan pertama film tidak konsisten, baik dengan karakter novel maupun film.

Adapula Darsam sebagai sosok penjaga yang setia pada Nyai tampak garang, seperti pendekar Madura pada umumnya. Bunda, sosok ibu Minke, diperankan Ayu Laksmi dengan cukup baik dengan logat Jawa yang kental dan sebagai perempuan Jawa yang bersikap bijaksana dalam menghadapi kelakuan anaknya yang melampaui zamannya.

Kommer, Croix bersaudara, Jean Marais, Jan Dapperste, dan Magda Peters memiliki porsi yang terlalu sedikit. Lepas dari itu, yang terutama disayangkan adalah peran dokter Martinet dan Maiko. Dokter Martinet terkesan tidak terlihat fit dengan keseluruhan penokohan. Tampak agak kaku, peran nya seperti dipaksakan agak mendekat kepada sentral cerita. Sedangkan pembawaan Maiko seperti tokoh paling antagonis pada sinetron, dengan seringainya yang seperti setan. Sedikit menganggu karena tampak komikal dan tidak natural.

Kekurangan pada beberapa akting penokohan ini terobati oleh penulisan naskah dan artistik film namun diperparah oleh penataan musik. Penataan musik pada banyak adegan justru membuat film nampak glamor dan terjebak dalam euforia layaknya film perang yang bertabur musik dramastis. Pada beberapa adegan ini bahkan bisa dibayangkan lebih baik tanpa musik latar dan hanya mengandalkan suara natural latar. Padahal musik latar yang tepat di kala yang tepat bisa memberikan dinamika aliran cerita lebih hidup, alih-alih membuat penonton mengernyitkan dahi dengan musik latar yang tidak pas.

Upaya Hanung dalam menciptakan dunia akhir abad patut diapresiasi. Dunia Hindia Belanda kolonial yang sedang bersua dengan kata modern tampak pada properti bangunan yang memang dibangun khusus untuk film. Mungkin karena pada akhirnya terlihat terlalu fresh dan terang, properti bangunan pada film ini tampak seperti pada sebuah wahana wisata yang baru dibuka untuk kembali ke abad lalu. Ditambah pula dengan mode pakaian seluruh pemain yang akan membawa penonton kembali seutuhnya, terutama pada awal film yang menampilkan festival dalam rangka penobatan Ratu Wilhelmina, menuju dunia dimana terdapat manusia terperintah yang menanggung ketidakadilan dan tak mengenal kata bebas. Masalah muncul ketika penggambaran kesusahan manusia terperintah ini tidak selaras dengan pakaian mereka yang kebanyakan masih terlihat baru dan kurang kusam.

Penggambaran suasana yang akan terbawa hingga pulang juga adalah tonekuning dan peach (yang sedikit mengarah pada efek sefia) yang hampir terasa di sepanjang cerita bergulir. Penggunaan warna ini juga didominasi tingkat keterangan yang cerah, bahkan pada adegan dalam ruangan sekalipun, membuat film ini harusnya memiliki emosional yang ceria dan berpengharapan tinggi. Film dengan tone yang mirip adalah film karya Wes Anderson, seperti Moonrise Kingdom atau The Darjeeling Limited. Film dengan latar era yang hampir sama seperti Oeroeg, Max Havelaar, Sang Pencerah, atau Guru Bangsa Tjokroaminoto memiliki tone yang lebih gelap dan bernuansa lebih natural. Seiring dengan lagu Indonesia Raya di awal film, mungkin memang tone ini ingin mengisi lubuk hati penonton bahwa meskipun tertindas dan pengalaman ketidakadilan terjadi dimanapun, bahkan hingga di saat katanya bangsa kita sudah merdeka, harapan akan masa depan yang cerah harus selalu ditegakkan.

Pada nyatanya film ditutup dengan “kekalahan” Minke dan Nyai melawan kesewenang-wenangan. Dan kekalahan tersebut terasa menyakitkan, karena segala daya upaya telah dikerahkan. Kalah dengan melawan. Kalah karena memang begitulah adanya tumbukan antar peradaban yang membawa bangsa yang satu diperintah bangsa yang lain. Yang satu menindas yang lain. Merendahkan manusia dengan kulit yang lebih gelap dengan umpatan monyet. Begitulah adanya bumi manusia. Hingga saat ini, di bangsa yang mengaku sudah merdeka 74 tahun.

Salam pembebasan!

Catatan:

1. Buku Max Havelaar tampak dibawa oleh Minke dalam beberapa adegan.

2. Nama Tirto Adhi Soerjo sebagai persona Minke nampak dalam lima adegan: ketika surat panggilan dari ayahnya datang, dialog dengan ayah Minke, daftar kelulusan HBS, surat kabar yang memuat namanya yang sudah terungkap, dan pada surat perkawinan.

3. Kunjungan pertama Minke ke Buitenzorg diakhiri dengan Minke membawa koper. Ketika berangkat bersama Suurhof, Minke tidak membawa apapun.

4. Adegan Minke bermain dengan May Marais berada di pantai nampak perbukitan karang di daerah Yogyakarta yang khas pantai daerah selatan Jawa. Padahal latar film berada di daerah Surabaya.

5. Si gendut karakter yang tidak terjawab identitasnya? Hal ini dikarenakan identitas karakter sebenarnya baru dibahas pada novel Anak Semua Bangsa.

6. Penggunaan bahasa Indonesia yang baku masa kini tampak pada film digunakan oleh manusia terjajah. Padahal bahasa Indonesia belumlah lahir, dan ragam bahasa Melayu yang digunakan kala itu memiliki perberbedaan mencolok dengan bahasa Indonesia. Justru penggunaan bahasa Melayu oleh manusia Eropa yang lebih mendekati kenyataan kala itu. Namun, kesetiaan pada penggunaan bahasa Belanda, Jawa, dan Perancis patut diacungi jempol.

7. Latar yang paling mengganggu adalah rumah pelesiran. Dimana dalam warna merah nan mencolok yang khas budaya Tiongkok, rumah tersebut terletak di belakang kuburan bergaya Islam Jawa. Apakah manusia yang ingin berplesir ingin masuk ke rumah bordil jika di depannya ada kuburan?

8. Adegan tempur di pelataran gedong Buitenzorg nampak kurang natural dan terkesan dibikin epik.

* https://www.warningmagz.com/wawancara-hanung-bumi-manusia/