Kelompok Penerbang Roket - Mati Muda (Official Video)

saya rasa ketika saya mendengar frasa mati muda, rasanya bisa benar-benar jadi semangat. hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, tanpa ada alasan yang dibuat-buat. mati muda, rasanya adalah manifestasi dari masa muda itu sendiri. semangat yang sekejap, satu kilatan saja adanya. seperti gairah yang meledak sekencang-kencangnya dalam waktu sesingkat-singkatnya. seperti resiko paling besar yang paling berbahaya. seperti menjadi anak-anak yang telah dewasa, sekaligus menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan.


“aku ini binatang jalang” adalah ungkapan yang sangat apa adanya dari angkatan ‘45. aku ini bukan cuma binatang– aku ini binatang yang jalang.  berani, lugas, bergelora, mantap, nekat, gairah, gereget, liar…. mati muda rasanya membutuhkan spontanitas, bukan hal yang direncanakan dari awal. apalagi yang dibutuhkan oleh hal-hal spontan kalau bukan tumbukan. buk! dan terjadilah.


nicholas saputra punya dialog tentang orang-orang yang mati muda seperti kurt cobain dan chairil anwar. saya pikir, betapa hebatnya dalam waktu hampir setengah dari umur rata-rata manusia mereka sudah meninggalkan peninggalan sedemikian berartinya. masyarakat juga percaya dengan kecenderungan bahwa, orang-orang yang dipanggil tuhan terlebih dulu adalah orang-orang yang baik. beberapa orang hebat yang berumur panjang, lambat laun mulai terlihat keanehannya dan keluarbiasaannya lama kelamaan seperti menjadi hambar dan kehilangan rasa. begitulah mati muda punya tempat spesial di hati manusia sehingga awalnya saya secara praktis mengira bahwa mati muda lah inti dari orang-orang yang hebat.


mungkin mati muda rasanya seperti menjadi seorang deadliner. perasaan kepepet dan tersudutkan itu membangkitkan energi cadangan yang ada dalam pemikiran saya sehingga yang tidak mungkin menjadi mungkin. tapi tenggat waktu kan hanya ada dalam pikiran kita, tenggat waktu kan tidak secara harafiah menghidupkan kesadaran penuh saya. yang menghidupkannya adalah pemikiran saya bahwa tidak punya waktu lagi, momennya terbatas dan hanya itu saja kesempatan saya sehingga bangkitlah kesadaran saya untuknya. kalau dipikir lagi, mungkin rasanya seperti menjadi hari minggu. minggu pukul 11 malam, rasanya aneh bahwa satu jam lagi adalah hari senin di mana semua dimulai lagi dari awal. susah menyelesaikan bagaimana saya dapat mengglorifikasi mati muda itu sendiri, karena sejujurnya saya pikir betapa kerennya mati muda.


tapi tunggu dulu, apa yang spesial kalau misalnya saya memutuskan untuk mati muda? kenapa kedengarannya juga seperti pengecut kalau memang mati muda (secara harafiah) memang sekeren itu? mati muda yang saya pikir keren mungkin bukanlah keberanian untuk mati sekarang juga.


apa mungkin mati muda semestinya menggunakan tanda penghubung sehingga ditulis “mati-muda” karena mengartikannya sebagai mati mumpung dalam kondisi muda bisa jadi sangat salah dan tidak keren?


mungkin, “mati muda”, bisa juga ditulis atau disubtitusi dengan, “bersikeras untuk hidup”. semangatnya terasa mirip.


habisnya, mati dan muda benar-benar berlawanan makna. setelah saya pikirkan lagi dan lagi pernyataan bahwa memutuskan untuk mati muda adalah konyol, jawaban yang paling oke adalah: bagaimana bisa saya dengan sengaja memutuskan sebuah kondisi yang kontradiktif. kondisi tersebut diciptakan oleh alam, unsur perlawanan bukanlah satu kesengajaan tapi keniscayaan. karenanya, mati muda, tidak bisa dan tidak mungkin disengaja. mati muda semestinya selalu ditulis sebagai “mati-muda” (dengan tanda kutip) karena mati muda semestinya tidak pernah berarti harafiah tapi hanya kiasan, membentuk satu entitas yang seolah-olah ada di pikiran kita seperti, “tenggat waktu” yang diciptakan secara komunal atau, “hari minggu” yang juga ditanamkan secara komunal.


apalagi kalimat yang pas untuk menjadi pembenaran paragraf ini kalau bukan:

“aku ingin hidup seribu tahun lagi.”