Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata…
Yang pasti bukan “ETIKA!”
-Bukan Wiji Thukul-

“Kalau itu bahasannya materi dan metode. Bisa lama. Kami saja membahasnya berbulan-bulan” Jawab pemimpin forum ‘dua arah’ Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) yang sangat agung itu.

Sebagai calon anggota himpunan tercinta kami, HMTL, kami rasa kami tidak sebodoh itu sampai-sampai tidak bisa menerima penjelasan dari massa HMTL tentang metode ospek jurusan yang diterapkan pada kami.

Kami, mungkin, masih dapat menerima bentuk jawaban lain seperti kala mereka menggelorakan ‘esensi berhimpun’ atau ‘esensi ospek jurusan’.

“…. bisa lama.”? Kami rasa kami memang tidak cukup pintar untuk menyelami alam pikiran massa HMTL yang kerap meminta kami dikondisikan karena melanggar etika dalam forum yang tidak beretika.

Sabtu, 7 September 2019.

Dalam forum dua arah, seharusnya ada ruang untuk berdialektika, beropini, bahkan mempertanyakan, atau jika kami cukup pintar mungkin sampai memberikan saran. Akan tetapi, apa yang kami utarakan pada forum ‘dua arah’ di ospek jurusan HMTL kemarin nampaknya tidak cukup pintar.

Ketimbang menjawab pertanyaan pemimpin forum 'dua arah' HMTL yang sangat jelas itu, kami lebih digiring untuk menebak jawaban dari teka-teki tugas yang mereka siapkan.

Daripada membuang tenaga untuk bermain tebak-tebakan, kami memilih diam. Namun, diam kami dibalas dengan teriakan lantang seperti “Jawab, Mas, Mba!” atau teriakan yang sangat menginspirasi seperti “Diem aja! Patung mbak?!”;  “Katanya angkatan paling bener?!”;

Kurasa kami memang belum mampu untuk mencapai taraf tebak-tebakan massa HMTL yang adiluhung itu.

“ETIKA!!” Teriakan dahsyat nan lantang menyusul ketika kami mencoba berbicara sama lantangnya dengan msasa HMTL atau ketika kami terlalu tegang karena banyak teriakan menginspirasi dari barikade msasa HMTL hingga ucapan kami terbata-bata.

“MASSA, KONDISIKAN!” merupakan teriakan lanjutan yang berarti kami harus keluar barisan untuk diajari  ‘etika-etika’ dari massa HMTL.

Kami bingung. Sepertinya etika yang mereka maksud sedikit berbeda dengan yang aku mengerti. Jadi yang mana yang harus dikondisikan, kami pun pun tak tahu.

I Think Therefore I...?

"Massa Kondisikan!!!!!!!!"

Himpunan adalah wadah berkumpulnya mahasiswa dengan keilmuan yang sama untuk mengabdi ke masyarakat; menyelesaikan masalah di masyarakat. Sebagai Co-curricular, himpunan pun seharusnya menunjang kegiatan akademik mahasiswanya.

Akan tetapi, apabila metode yang digunakan dalam orientasi himpunan tidak mampu menjawab kebutuhan masyarakat, nampaknya bentuk orientasi ini harus dipertanyakan.

Misal, apakah beretika dalam masyarakat berarti berteriak dengan sangat berani kepada masyarakat “Kok Diem aja? Patung, Mbak?!” atau apakah kami akan menjadi lebih ‘bermental baja’ atau mungkin lebih pintar karena diteriaki dengan lantang?

Atau, apakah metode osjur yang memberikan tekanan mental masih relevan pada zaman dimana (mohon maaf sebelumnya) banyak dari genterasi kami yang jatuh karena penyakit mental? Sepertinya cukup mengerikan. Entahlah, bisa lama kalau dibahas hingga selesai.

Apalagi kalau pengejawantahan mental untuk mengabdi pada masyarakat mengambil bentuk seperti tugas wawancara dua puluh massa selama 4 hari di tengah-tengah waktu kuliah. Apalah arti himpunan sebagai co-curricular?

“Kami sudah mempertimbangkan kegiatan kuliah dan kegiatan di luar kuliah.” Aku baru tahu kalau mempertimbangkan berarti menutup mata.

Kesibukan dan tanggung jawab kami di luar kegiatan berhimpun seringkali harus ditinggalkan demi menjaga ‘keseriusan kami yang dinilai dari jumlah angkatan kami yang hadir. Memangnya hidup hanya osjur doang, Mas, Mba?

Selama satu bulan lebih kami ditandai seperti hewan peliharaan dan hanya disuapi dengan glorifikasi identitas yang penurunannya bisa lama kalau dibahas dalam forum dua arah.

Ruang steril tanpa alasan pun dibebankan kepada kami tanpa kami tahu mengapa. Siapa Anda membatasi ruang gerak kami?


Kurasa aku akan menutup telinga atas pernyataan “yaelah gini doang ngeluh” atau “zaman kami lebih berat, mba”.

Karena mempertanyakan untuk mengetahui esensi runtutan kegiatan yang kami jalani akan lebih masuk akal ketimbang menerima teriakan lantang dan etika yang super mulia dengan justifikasi strata mahasiswa sebagai massa himpunan.

Bening Rahmadinda Osmayani
15318057